Rabu, 29 Juli 2009

Langkah II Perencanaan Keuangan


Check Your Financial Health

Dalam tulisan terdahulu saya telah mengulas tahapan pertama dalam membuat perencanaan keuangan yakni memikirkan mimpi-mimpi keuangan kita dan menetapkan secara spesifik tujuan keuangan yang hendak kita capai sesuai dengan prioritas dan realitas keuangan kita.

Berikut saya akan mengulas tahapan kedua yakni, melakukan pengecekan terhadap kondisi keuangan kita. Tahapan ini menjadi penting karena dari sinilah sesungguhnya kita mampu memotret profil keuangan kita. Apakah sesungguhnya keuangan kita dalam posisi sehat atau justru sebaliknya memiliki menyakit kronis yang harus diperbaiki. Karena kami banyak menemui klien yang sesungguhnya memiliki income yang bisa dikatakan besar tapi justru profil keuangannya amburadul. Tapi berapa banyak kami juga menemukan klien yang penghasilannya tidak terlalu besar untuk ukuran kebanyakan orang tapi ia memiliki profil keuangan yang cukup sehat... Artinya ia memiliki kemampuan menabung dan berinvestasi yang cukup tinggi. Profil keuangan dikatakan baik manakala ia mampu menunjukkan tidak besar pasak daripada tiang...


Lalu, bagaimana cara kita bisa mengetahui profil keuangan kita pada saat ini? Untuk mengetahuinya ada 2 hal penting yang harus bapak/ibu buat mulai hari ini, yaitu neraca rumah tangga yang akan menggambarkan posisi kekayaan bersih yang bapak/ibu miliki dan laporan arus kas.


1. Neraca Rumah Tangga (Posisi Kekayaan Besih)

Sering kita melihat di jalan atau mungkin di sekeliling rumah kita orang-orang yang memiliki mobil lebih dari satu, rumah mewah, dan harta benda lainnya yang menunjukkan bahwa orang yang Anda lihat itu adalah orang kaya... mungkin banyak dari kita berpikir bahwa orang yang memiliki banyak harta bendanya adalah orang kaya sekali...

Aitss nanti dulu, jangan salah lho bisa jadi mereka yang menurut Anda lebih kaya dari Anda tapi ternyata justru lebih miskin dari Anda.... kenapa demikian???? Karena jaman sekarang sangat mudah untuk meminjam kredit untuk membeli properti dan asset-asset lainnya. Jadi sangat mungkin orang yang kelihatan tampak kaya luar biasa itu justru mereka mereka memiliki kekayaan bersih yang jauh lebih sedikit dari apa yang Anda miliki, Hal ini disebabkan kareana total kewajibannya jauh dari angka normal bahkan hampir menandingin total assetnya.... Banyak sekali orang-orang yang kelihatan kaya itu memiliki cicilan hutang yang sangat bengkak, bukankah ini artinya ia lebih besar pasak daripada tiang. Jadi, untuk mengetahui apakah bapak/ibu atau seseorang itu bisa dikatakan benar-benar kaya atau tidak, kita harus menghitung jumlah hartanya dikurangi dengan jumlah hutangnya.

Saya ingin sedikit menconthokan misalkan Tuan Abduh memiliki sebuah Innova yang nilainya sekitar Rp. 250.000.000,-. Mobil ini dibelinya secara kredit, dengan sisa angsuran Rp. 10.000.000,- sebanyak 20 kali.
Jadi kekayaan Tuan Abduh yang sebenarnya dari Innovanya tersebut adalah:
= Rp. 250.000.000,- - (20 x Rp. 10.000.000,-)
= Rp. 50.000.000,- (inilah sesungguhnya kekayaan bersih Tuan Abduh)


2. Laporan Arus Kas

Secara umum laporan arus kas terdiri dari 2 bagian, yaitu Arus Kas Masuk (pendapatan), dan Arus Kas Keluar (pengeluaran). Pada bagian Arus Kas Masuk, kita menuliskan pendapatan-pendapatan kita seperti gaji, tunjangan, bonus, atau mungkin ada pendapatan dari pekerjaan sampingan.

Sementara pada Arus Kas Keluar terdiri dari 3 bagian. Bagian pertama adalah pengeluaran untuk tabungan atau investasi. Bagian keduanya adalah pengeluaran untuk biaya tetap (biaya yang setiap bulan harus kita bayar dalam nilai yang sama), misalnya KPR, KPM, iuran TV, Premi Asuransi, dan lain-lain. Sementara bagian ketiga adalah pos-pos pengeluaran kita seperti makanan, pakaian, transportasi, hiburan, kesehatan, pendidikan, pembayaran kartu kredit dan lain-lain. Kita harus selalu memahami prinsip dasar dari keuangan rumah tangga kita yakni “Pendapatan harus lebih besar daripada pengeluaran”. Apakah hal ini benar-benar terjadi pada arus kas Anda?

Dari arus kas yang Bapak/Ibu tuliskan inilah nantinya kita memetrot sejauh apa kondisi kesehatan keuangan Anda, setidaknya ada beberapa rasio dasar yang harus Bapak/Ibu ketahui:

Saving Rate Rasio = Tabungan + investasi sebulan/Penghasilan per bulan (Rasio yang menggambarkan komitmen kita menyisihkan sebagian penghasilan saat ini demi untuk mencapai tujuan di masa akan datang. Rentangan presentasi yang baik adalah antara 10%-30%.

Debt Service Ratio = Cicilan utang per bulan/ Penghasilan per bulan. (Rasio yang menggambarkan pengaruh hutang terhadap kehidupan kita tiap bulan. Jangan sampai keringat dan capek dan kelelahan usaha, kerja kita mulai pagi sampai malam hari hanya dihabiskan untuk melunasi cicilan-cicilan hutang saja. Maka, batasan yang baik untuk rasio ini adalah maksimal 30% dari pendapatan per bulan kita.

Rasio Likuiditas = Total harta lancar/ Pengeluaran dalam setiap bulan (Rasio yang menggambarkan berapa lama kita mampu bertahan hidup dengan menggunakan harta lancar. Dengan kata lain rasio ini adalah kemampuan dana darurat yang dapat kita sediakan (Batasannya adalah 3 kali, 6 kali, 9 kali atau 12 kali)

Nur Jamaludin
Financial Advisor @ Prodigiy
Telp. 021 68962925

Langkah I Perencanaan Keuangan


Menentukan Tujuan Keuangan

Langkah pertama dalam perencanaan keuangan adalah menentukan mimpi atau harapan-harapan dan cita-cita kita. Anggaplah pada tahapan ini Anda sedang bermimpi. Ya, tidak salahnya kita bermimpi! Jangan takut bermimpi karena mimpi adalah hak semua orang dan tentu tanpa pungutan restribusi atau pajak. Tanyakan pada diri Anda apa yang kalian kehendaki dalam hidup ini. Apartemen di Kelapa Gading? Mobil Alphard seri terbaru? Memiliki kawasan pertanian terpadu di pinggir Jakarta atau puncak? atau bahkan bulan madu ke ke Istambul atau ke Dubai?

Nah, jika sudah, bangunlah dari mimpi Anda untuk melihat realita apakah seluruh mimpi Anda sudah sesuai dengan kondisi kekayaan dan pendapatan Anda? Jika belum, kembalilah bermimpi. Namun, kali dengan mimpi yang lebih realistis. Jangan lupa prioritaskan hal mana yang ingin Anda dapatkan terlebih dulu.

Satu hal yang harus diingat, selain hal-hal yang menyenangkan tadi, masukkan di dalam prioritas Anda kebutuhan dana darurat. Dana darurat? Apalagi itu? Dana darurat adalah dana untuk keperluan yang munculnya tidak Anda duga, seperti biaya rawat inap di rumah sakit. Tentunya hal ini tidak diharapkan terjadi, tetapi tidak ada salahnya Anda berjaga-jaga seperti pribahasa "sedia payung sebelum hujan".

Setelah kita bermimpi dan mengukur secara realistik mimpi-mimpi keuangan seperti yang telah saya sampaikan dalam tulisan sebelumnya, kini giliran kita merasionalisasi mimpi-mimpi tersebut. Pikirkan secara serius apa sich tujuan akhir dari keuanan kita. Apabila sejak awal kita sudah memikirkan dan menentukan apa saja sih tujuan yang ingin kita capai dengan uang yang kita miliki, kita dapat membuat rencana keuangan yang sesuai, mengimplementasikannya sehingga akhirnya tujuan kita bisa tercapai dalam waktu yang lebih cepat. Bukankah lebih cepat, lebih baik. Seperti jargon JK dalam setiap kampanyenya.

Kira-kira apa saja tujuan keuangan itu: kita bisa memulainya dengan membagi tujuan keuangan menjadi tujuan jangka panjang dan tujuan jangka pendek. Apa saja yang termasuk tujuan jangka panjang itu?

1.Dana untuk membiayai hari tua kita (masa pensiun), tentu sesuai dengan gaya hidup yang kita inginkan.
2.Dana untuk membiayai pendidikan anak sesuai dengan jenjang pendidikan tinggi yang dikehendaki (bisa S1,S2, atau sampai doktoral)
3.Dana yang akan kita wariskan kepada anak-cucu kita, jika kelak kita menghadap Tuhan.
4.Perlindungan keuangan dari risiko hidup yang mungkin saja terjadi pada diri kita, dan anggota keluarga lainnya.
5.Dana untuk mendirikan bisnis pasca bekerja bagi Anda para pekerja yang ingin berbisnis sambilan ataupun fulltime.
6.Dana sosial bagi Anda yang ingin mengabdikan dirinya untuk kegiatan amal bagi organisasi sosial yang Anda dirikan maupun hanya sebagai donatur saja.
7.Dana untuk perjalanan spiritual (ibadah haji dan wisata ruhani) bersama seluruh anggota tercinta.


Sedangkan tujuan keuangan jangka pendek misalnya adalah:
1.Membeli asset seperti rumah, mobil, barang elektronik dll
2.Melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi
3.Merenovasi rumah atau asset properti Anda
4.Rencana libur akhir tahun bersama keluarga
5.Melaksanakan kegiatan amal

Ada beberapa pedoman dalam menuntukan tujuan keuangan ini yakni, harus spesifik atau jelas apa yang diinginkan, dapat diukur, dapat dicapai, realistis dan mempunyai jangka waktu yang jelas dalam upaya pencapaiannya.

Dalam menentukan tujuan keuangan ini, perlu saya sampaikan bahwa perlu bagi Bapak/Ibu untuk dapat mencatat atu menuliskannya baik di sehelai kertas maupun file komputer Anda. Setelah itu kita harus mampu mengurutkan tujuan-tujuan itu ke dalam perioritas pencapaiannya. Tujuan apa yang paling penting dan berharga bagi Anda itulah yang harus diurutkan dalam urutan-urutan teratas sampai pada akhirnya tujuan-tujuan yang kurang terlalu penting/berharga bagi Anda. Hal ini mutlak dilakukan mengingat, kita sering dibatasi oleh sumber daya (pendapatan kita). Jangan sampai kita mampu mencapai tujuan kita yang sebenarnya bukan prioritas kita, justru sebaliknya apa yang paling kita dambakan dalam hidup ini tak terpenuhi, lantaran kita salah memberikan prioritas dalam tujuan.... (selamat membuat perencanaan Keuangan)

Nur Jamaludin
(021) 68962925
Financial Advisor (Prusyariah)

Selasa, 14 Juli 2009

Pengeluaran Tak Perlu


Saya pernah bertemu sepasang suami-istri yang berada pada masa-masa awal perkawinannya. Namanya, sebut saja Yanto dan Lilis. Mereka berdua datang kepada saya sekitar Juni 2000, di mana keduanya berusia sekitar 29 tahun. Belum punya anak, karena mereka berdua masih ingin menundanya sampai sekitar dua-tiga tahun lagi.
Mereka datang kepada saya dengan membawa masalah. Keduanya sama-sama bekerja, dengan penghasilan total sekitar Rp 2 juta per bulan. Total keduanya. Tapi pengeluaran mereka per bulan sekitar Rp 2 juta sampai 2,3 juta. Ini berarti, mereka terkadang juga mengalami defisit, dan defisit itu selalu diambil dari tabungan mereka, sehingga kalau dibiarkan terus, tabungan mereka akan terus menyusut sampai akhirnya habis sama sekali.

Sementara dari pengeluaran tadi tak ada sedikit pun yang ditabungkan. Karena itu, mereka datang kepada saya dengan harapan bahwa saya bisa memecahkan masalah mereka, sehingga tabungan mereka tidak akan habis hanya untuk menutupi defisit bulanan.
Saya menyebut ini sebagai Konsultasi Anggaran. Kami duduk bertiga di sebuah meja bundar, dan saya mulai mengamati catatan pemasukan dan pengeluarannya. Saya menyadari bahwa pada umur-umur seperti ini di mana keadaan keuangan mereka belum baik, mereka harus melakukan sejumlah penekanan pada pengeluaran mereka.
“Kita harus menekan pengeluaran-pengeluaran ini.” Kata saya sambil menunjuk pada kertas yang berisi pengeluaran-pengeluaran mereka.

“Ya… kami setuju,” kata Yanto. Ia menoleh pada Lilis istrinya. “Kami memang harus menekan pengeluaran-pengeluaran kami. Makanya kita datang kepada Anda, Pak Safir.”
Saya melihat pada catatan pengeluaran mereka. Di situ ada 25 pos pengeluaran yang mereka lakukan tiap bulan, hanya untuk biaya hidup saja. Di luar cicilan hutang dan premi asuransi.

Saya mulai menunjuk pada salah satu pos pengeluaran.
“Coret ini…” kata saya. Iuran langganan teve kabel, Rp 145 ribu sebulan.
Lilis membelalakkan matanya. “Lo, nanti kita enggak nonton apa-apa dong…”
Saya mendekatkan kepala saya. “Ada lima stasiun teve Indonesia yang bisa Anda tonton Mbak Lilis,” kata saya sambil menyebutkan kelima stasiun yang pasti sudah Anda tahu juga. “Anda masih bisa tetap nonton teve meskipun Anda tidak berlangganan lagi teve kabel.” Apalagi jumlah stasiun teve juga masih akan terus bertambah.
Konsultasi anggaran memang tidak selalu disukai oleh klien saya. Ini karena kadang-kadang mereka harus menekan pengeluaran-pengeluaran bulanan yang mungkin “berat” untuk ditekan. Tapi untuk menekan defisit mereka, memang harus ada yang dikorbankan.
Lilis masih kelihatan keberatan. Saya menatapnya lekat-lekat. “Anda masih mau defisit atau tidak?”

Lilis tidak bisa menjawab apa-apa. Ia hanya menoleh pada suaminya seperti meminta “pertolongan” dan berharap suaminya ikut bicara. Tapi Yanto hanya merangkul Lilis dan tersenyum kecil sambil berkata pelan, “Enggak apa apa…” Dia bisa mengerti bahwa memang itulah pengorbanan yang harus mereka lakukan untuk sementara.
Saya berkata lagi, “TV kabel itu enggak wajib. Anda berdua mungkin tahu tapi tidak menyadarinya. Malah — maaf kalau saya harus terus terang — kebanyakan pengeluaran-pengeluaran kita sebagai manusia sebetulnya enggak perlu dan enggak wajib.”
“O ya?” Yanto terheran. Ia menoleh ke kertas catatan pengeluarannya.
“Ya,” kata saya. “Lihat ini…” saya mulai menunjuk.
“Keanggotaan fitness. Enggak wajib!”

Saya menunjuk lagi ke pos di bawahnya. “Hiburan, enggak wajib…”
Sebelum saya meneruskan, Lilis memotong, “Lo, bagaimana kita bisa hidup kalau itu semua harus dihilangkan?”
“Saya tidak mengatakan bahwa Anda harus menghilangkan semua pengeluaran yang tidak wajib ini. Yang saya maksud, ada pos-pos yang memang wajib Anda bayar, dan jumlah yang harus Anda bayar memang sudah wajib sebesar itu. Tapi ada pos-pos lain yang memang sifatnya tidak wajib, di mana pada pos-pos ini Anda leluasa untuk menekan jumlah pengeluaran Anda. Tidak perlu dihilangkan kalau memang Anda tidak mau.”
Mereka kelihatan mulai mengerti. Malah sebetulnya, Anda - pembaca - boleh percaya boleh tidak, bahwa banyak sekali pengeluaran-pengeluaran yang kita lakukan sebetulnya sifatnya tidak wajib, sehingga Anda bisa leluasa menekan jumlah pengeluarannya. Sebut saja: Fitness? Rekreasi? Nonton? Semua itu tidak wajib. Paling tidak dari sekali seminggu, bisa Anda kurangi menjadi sekali dalam dua minggu atau sekali sebulan.

Telepon? Enggak wajib. Kurangi bicara yang tidak perlu di telepon. Selain menghabiskan energi, juga menghabiskan biaya.
Makanan? Enggak wajib. Ada banyak bahan makanan yang sebaiknya Anda beli, tapi ada juga bahan makanan yang bisa Anda belakangkan prioritasnya. Biskuit misalnya.
Baju? Enggak wajib. Baju memang penting, tapi Anda mungkin bisa menekan jumlah rupiah yang Anda keluarkan untuk baju kalau memang pengeluaran Anda untuk baju terasa besar. Kalau biasanya beli baju baru sebulan sekali, sekarang coba dijadikan dua bulan sekali.

Mudah-mudahan Anda mengerti maksud saya bahwa hampir semua pengeluaran yang Anda lakukan sifatnya adalah tidak wajib. Sekali lagi, tidak wajib di sini adalah bahwa jumlah uang yang Anda keluarkan sebetulnya tidak harus sebesar sekarang. Anda bisa menekannya kalau Anda mau, terutama apabila Anda selalu mengalami defisit setiap bulan. Anda bisa kalau Anda mau.

Jangan merasa tertekan atau terjebak dengan tulisan saya kali ini. Di lain pihak, memang ada banyak pengeluaran dalam hidup Anda yang tidak bisa Anda ubah dengan mudah atau dengan cepat. Sebagai contoh, kalau Anda membeli kendaraan seperti mobil atau motor, Anda pasti akan dengan rutin mengeluarkan biaya untuk perawatannya, di mana jumlahnya tidak selalu bisa Anda tekan.

Anda bisa mengendalikan pengeluaran-pengeluaran yang tidak wajib itu kalau Anda mau. Hanya saja Anda mungkin belum menyadarinya karena Anda sudah terlalu lama mengeluarkan jumlah uang yang sama untuk membayar pengeluaran-pengeluaran tersebut.
Prinsipnya, bila pengeluaran Anda setiap bulannya selalu lebih besar daripada pemasukan Anda (defisit), hal itu biasanya terjadi bukan karena kecilnya penghasilan Anda, tapi karena sikap Anda sendiri. Dan sikap itulah yang harus berubah terlebih dahulu kalau Anda ingin menghilangkan defisit Anda setiap bulan.
Kalau sikap Anda tidak berubah, maka seberapa pun besarnya penghasilan Anda nantinya, Anda tetap saja akan mengalami defisit. Sampai kapan pun.

Dikutip dari Tabloid NOVA No. 656/XIII. Ditulis oleh Safir Senduk.

Sabtu, 20 Juni 2009

Sudahkah Anda Merencanakan Masa Pensiun Anda?


Hasil survey Majalah MARKETING tentang prilaku konsumen Indonesia sebagian besar konsumen Indonesia memiliki karakter unplanned. Konsumen Indonesia biasanya suka bertindak last minute, mayoritas konsumen kita juga suka berpikir jangka pendek dan sulit diajak berpikir jangka panjang. Masih banyak konsumen Indonesia yang tidak melakukan perencanaan keuangan untuk masa depannya bahkan mereka tidak mempersiapkan rencana apapun jika terjadi sesuatu di masa mendatang. (Survey yang dilakukan oleh Majalah MARKETING & diterbitkan pada Edisi Khusus/II/2007).


Sebuah survey lainnya oleh LIMRA (Life Insurance Marketing Research Association) yang dilakukan terhadap 100 orang muda yang berusia 25 tahun dan apa yang terjadi pada mereka 40 tahun kemudian yaitu pada usia 65 tahun, hasilnya sangat mengejutkan :


1% yang menjadi kaya (secara financial),
4% memiliki keuangan yang mandiri
5% masih bekerja,
12% bangkrut,
36% sudah meninggal,
54% mengandalkan kehidupannya pada anak, panti Jompo atau sumbangan orang lain.

Majalah SWA edisi Juli 2004 juga pernah menurunkan hasil survey Perencanaan Keuangan yang hasilnya ternyata 80% eksekutif terancam miskin dihari tuanya karena mereka konsumtif, besar pasak dari pada tiang dan investasi yang kacau.


Survey lainnya yang dilakukan oleh CitiBank tentang Financial Quotient, dikutip oleh Majalah FEMINA edisi No.02/XXXVI, mengatakan bahwa 6 dari 10 orang Indonesia tidak yakin Tabungan mereka akan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan financial dan membawa mereka dalam kehidupan nyaman dimasa pensiun.

Sifat konsumen yang cenderung tidak memiliki rencana ini terlihat dari masih banyaknya konsumen Indonesia yang tidak melakukan perencanaan keuangan atau tepatnya proteksi keuangan untuk masa depannya bahkan mereka tidak mempersiapkan rencana apapun jika terjadi sesuatu di masa mendatang. Menurut data AAJI (Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia), saat ini baru 5% dari 230 juta penduduk Indonesia yang memiliki polis asuransi jiwa. Itupun sebagian besar ikut asuransi karena perusahaan tempat mereka bekerja memberikan fasilitas asuransi. (Kontan No. 34-XII, 23-29 Mei 2008).

Tahukah Anda berapa yang harus Anda sediakan untuk Pensiun Anda?
Jumlah yang Anda sediakan adalah sejumlah minimal 80% dari biaya hidup Anda setahun saat ini ditambah inflasi selama kurun Anda menabung dari Anda dikali masa pensiun yang Anda kehendaki semisal (15 tahun, ini jika Anda ingin pensiun di usia 55 th).

Jika Anda berpengeluaran Rp 120 juta setahun dan Anda berusia 3o tahun saat ini maka saat Anda pensiun diusia 55 tahun dengan asumsi hidup Anda sampai usia 70 tahun maka 15 tahun masa pensiun tersebut Anda harus menyiapkan dana sejumlah Rp. 11,136,022,698
untuk biaya hidup Anda selama 15 tahun. Sudahkah Anda menyiapkan dana sejumlah ini? Jika belum, ayo kita bisa mulai saat ini. Berinvestasi selagi mudah akan memberikan return yang lebih besar. Tidak ada waktu untuk menunda,semakin cepat semakin baik.

Nur Jamaludin
Financial Advisor @ Prodigy
Menara Thamrin Lt 17
Jakarta

NB: Kepada teman-teman yang ingin sharing bagaimana menyiapkan dana pensiun sejak dini silahkan hubungi kami (021) 689629 25. Kami bersedia menghitungkan kebutuhan Anda dan memberikan solusi untuk hal ini.

Jumat, 19 Juni 2009

Perencanaan Keuangan (bag ke-2)


Setelah sebelumnya saya memposting urgensi perencanaan keuangan dari persfektif alquran surat Al Hasyr:18 dan An Nisa:9. Kali sedikit saya mengulas apa sich perencanaan keuangan itu dan apa saja tahapan yang diperlukan untuk membuat perencanaan keuangan yang baik bagi keluarga Anda.

Perencanaan kuangan adalah sebuah upaya mengelola keuangan dengan cara bijak guna memenuhi cita-cita dan harapan-harapan kita pada masa yang akan. Seperti kita ketahui banyak cita-cita dan keinginan kita dalam hidup ini di antaranya adalah: pensiun di usia yang tak terlalu tua dengan kondisi keuangan yang memadai sampai akhir hayat kita, menyekolahkan anak sampai jenjang S2 di Universitas luar negeri atau kampus terbaik di negeri ini, pergi haji bersama keluarga besar kita (anak,istri dan kedua orang tua dan mertua kita), memiliki usaha seteleh pensiun, menjalankan aktivitas social dengan menggunakan dana dari kantong kita sendiri dll.

Untuk mencapai hal-hal tersebut di atas tentu memerlukan budget yang banyak, karena persiapan dan perencanaan yang baik mutlak diperlukan. Sejatinya, sejak kita mulai berpenghasilan sudah melakukan persiapan untuk mencapai hal-hal di atas. Semakin kita menunda menyiapkannya maka semakin sulit kita mengejarnya. Ingat dalam hidup ada istilah oportunity cost, inflasi, ini harus menjadi perhatian kita. Karena kita harus megenali langkah atau tahapan apa yang harus kita lakukan untuk merencakan keuangan keluaga kita. Setidaknya ada 6 tahapan/langkah yang harus kita tempuh:

1. Menentukan cita-cita/harapan/tujuan keuangan kita
2. Melakukan pemeriksaan kesehatan menyeluruh (general chek up) terhadap kondisi keuangan kita
3. Memastikan rencana keuangan kita
4. Mengenali instrument investasi dan profil resiko kita
5. Mulailah menentukan investasi sesuai kemampuan Anda
6. berdisiplinlah dan monitor terus antara rencana dan hasil yang telah didapat…

Setidaknya inilah beberapa hal yang menjadi konsen kita dalam merencankan keuangan keluarga kita.... Insya Allah ke depan coba saya jelaskan masing-masing tahapan di atas...
Terimakasih.... salam sukses dan bahagia

Nur Jamaludin
Financial Advisor @Prodigy
Menara Thamrin floor17
Telp (021) 68962925

Perencanaan Keuangan (bag ke-1)


Teman, saya ingin sekali berbagi dengan Anda tentang perencanaan keuangan. Dan kali ini saya mau menulis seputar bagaimana merencanakan keuangan keluarga Anda. Namun sebelumnya izinkan saya mengutip ayat Al Quran sebagai inspirasi dalam tulisan ini:

Firman Allah:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuat untuk hari esok, bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan” (Al Hasyr:18)

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucap perkataan yang benar” (Annisa:9)

Dari 2 ayat di atas setidaknya ada beberapa hal yang bisa saya simpulkan… tapi sebelumnya saya mohon maaf karena dalam menyimpulkan ayat di atas saya tidak menggunakan kaidah tafsir apapun… saya hanya menyimpulkan berdasarkan pandangan (ro’yu) saya saja… Secara khusus saya hanya menyimpulkan berdasarkan persfektif perencanaan keuangan saja:

1. Ayat di atas mengajarkan kita untuk memperhatikan masa depan, ini artinya apa yang kita kerjakan hari ini haruslah merupakan satu rangkaian (alur) yang tak putus dengan apa yang kita inginkan, kita kehendaki dan rencanakan di masa depan. Dalam konteks perencanaan keuangan kita mengenal fase-fase pengeluaran uang yang dari masing-masing fase itu memiliki penekanan yang berbeda. Karenanya penting bagi kita untuk tahu dan mampu merencanakan keungan kita dengan bijak agar hidup kita menjadi lebih baik di kemudian hari.

2. Ayat kedua lebih spesifik mengingatkan kita untuk mampu menjaga amanah terbesar dalam kehidupan di keluarga kita yakni anak. Ayat di atas menekankan kepada kita untuk menjamin kebutuahan-kebutuhan asasi mereka seperti pendidikan, kasih sayang, dan lingkungan yang baik. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut tentu kita tak bisa menafikan asfek keuangan yang memadai. Sederhananya, untuk menyiapkan anak yang kuat, sehat, cerdas, dan saleh tentu kita membutuhkan makanan yang baik, pendidikan yang ungggul, pendidikan mental yang serius. Hal ini tentu memerlukan uang bukan?

Dalam tulisan selanjutnya, Insya Allah saya akan membahas secara sederhana bagaimana merencanakan keuangan keluarga?

PruSyariah Dana Pendidikan, Solusi Anda



Anda pasti berharap anak Anda kelak menjadi “orang”? Pertanyaannya sudahkah Anda sebagai orang tua menyiapkan kebutuhan masa depan anak Anda sejak dini? Saya yakin Anda telah memikirkannya... Tapi cukupkah memikirkannya saja? Oh yaa tentu tidak... Anda harus berbuat sesuatu dari sekarang. Lakukan yang terbaik agar anak – anak Anda nanti bisa tumbuh berkembang. Salah satunya menyiapkan pendidikan terbaik untuk kelak menjadi orang yang berhasil --lebih berhasil dari Anda sendiri-- itu baru orang tua yang baik.

Sering dengar kampanye di TV tentang Sekolah Gratis ? Apa memang gratis betulan ??? Memang gratis... tapi yang gratis kan SPP-nya dan itu kan cuma di sekolah negeri ajach..... Lantas apakah Anda yakin dengan kualitas pembelajaran di sekolah gratis itu. Biasanya yang namanya gratis kualitasnya mudah dipertanyakan.... Tentu kita semua berharap bahwa ke depan sekolah benar-benar gratis dan kualitasnya pun tak kalah dengan sekolah-sekolah internasional. Kita boleh berharap tapi jangan juga meninggalkan persiapan yang mesti kita lakukan untuk memberikan pendidikan terbaik bagi anak kita.

Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah dengan mimiliki polis asuransi pendidikan. Asuransi pendidikan penting bagi Anda karena selain memberikan keuntungan investasi, kita juga akan mendapatkan perlindungan (proteksi), sehingga ketika terjadi resiko terhadap Anda. Maka harapan Anda untuk memberikan pendidikan terbaik bagi putra-putri Anda masih bisa diwujudkan. Karena kewajiban Anda menyediakan dana pendidikan sesuai dengan apa yang Anda rencanakan akan dicover oleh perusahaan Assuransi.

Jadi, semakin dini maka akan semakin baik karena akan semakin banyak dana terkumpul , semakin besar jaminan kepastian pendidikan anak Anda tertata dengan baik , semakin ringan Anda menjalankan kewajiban anda sebagai orang tua. Betul khan ?
PRUSyariah Dana Pendidikan akan membantu Anda mewujudkan impian anak-anak Anda dengan minimal investasi adalah sebesar Rp.350.000 / bulan atau sebesar Rp.12.000 / hari anda menyisihkan uang untuk dana pendidikan putra - putri Anda.

Bagi Bapak / Ibu yang memiliki Penghasilan besar , saya sarankan untuk menyediakan dana lebih misalnya : Investasi per bulan nya sebesar Rp.500.000 atau Rp.1.000.000 / bulan , bisa juga Rp.5.000.000 / bulan , atau mungkin lebih besar lagi ?

Sekarang hubungi saya saja , sebutkan nama Anda dan nama anak Anda, umur Anda dan umur anak Anda , akan saya buatkan Ilustrasi Asuransi Pendidikan dari PruSyariah, nanti file ilustrasi nya akan saya kirimkan segera ke email Anda.
Telp saja 021 68962925 saya akan datang ke rumah Anda.